Wabah Kematian Hitam: Membentang dari Asia ke Eropa — Sejarah Pandemi Dunia (2)




Lukisan Marseille Selama Merebaknya Wabah pada Tahun 1720 oleh Michel Serre (Sumber: Wikipedia)

 Wabah kematian hitam pada hakikatnya adalah wabah penyakit pes. Lebih tepatnya, penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri yersini pestis. Dinamakan demikian untuk menghormati sang peneliti yang pertama kali memahami bakteri ini, Alexandre Yersin. Bakteri ini dikenal pertama kali oleh Mr. Yersin pada tahun 1894. Wabah ini disebut wabah kematian hitam karena kuku, kulit, dan daging penderita berubah warna menjadi hitam.

Wabah kematian hitam adalah wabah yang identik dengan Eropa. Pemahaman umum adalah wabah ini terjadi di Eropa. Namun, sebenarnya wabah ini juga menghantam sebagian wilayah Asia, tepatnya di wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah. Bahkan, sejumlah teori menyatakan bahwa wabah ini berasal dari Asia Tengah.




Asal Wabah

Diduga, adanya perubahan iklim di kawasan Asia Tengah mengakibatkan tikus dan marmut pembawa bakteri ini melakukan migrasi ke wilayah lain. Ada dugaan bahwa wabah ini pertama kali muncul di Kyrgyztan pada tahun 1338-1339.

Penyebaran bakteri ini menjadi semakin luas melalui jalur sutra, baik karena aktifnya pergerakan pasukan Mongol maupun karena perdagangan. Wabah ini turut menyerang India, Tartar, Mesopotamia, Suriah, dan Armenia.




Penyebaran Wabah Kematian Hitam di Eropa

Ada sebuah hipotesis unik mengenai bagaimana wabah ini akhirnya bisa memasuki Eropa. Pada tahun 1347, pasukan Mongol di bawah komando Jani Beg sedang mengepung kota Kaffa, sebuah kota yang terletak di Krimea. Kehilangan kesabaran akibat berlarutnya pengepungan sementara pasukannya terserang wabah mematikan, para tentara Mongol akhirnya melontarkan mayat-mayat yang terinfeksi wabah ini ke dalam tembok kota Kaffa. Terkena serangan biologis ini, para pedagang dari Genoa segera kabur meninggalkan kota dan kembali ke Italia. Di sinilah titik dimana akhirnya wabah ini mencapai Eropa.

Pada bulan Oktober 1347, dua belas kapal galley yang berisikan para pedagang Genoa tiba di Sisilia dan wabah ini pun segera menyebar ke penjuru Italia. Perancis dan Spanyol menyusul terjangkit. Satu tahun kemudian, wabah ini mencapai Portugis dan Inggris. Periode 1348 s.d. 1350, wabah ini mencapai Jerman dan Skandinavia.

Pada tahun 1349, sebuah kapal mendarat Askøy yang memulai penyebaran wabah di Norwegia. Dua tahun kemudian, wabah tersebut mencapai wilayah barat laut Rusia.




Penyebaran Wabah Kematian Hitam di Asia

Wabah ini juga menyebar di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana kita tahu, Kaffa, yang kini bernama Feodosia, merupakan kota pelabuhan yang merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang sangat penting di kawasan Laut Hitam. Wabah yang melanda di sana, segera mencapai Konstantinopel, jantung perdagangan dunia saat itu.

Dari Konstantinopel, wabah itu segera menjalar ke kawasan Timur Tengah. Pada musim gugur 1347, wabah ini sudah mencapai Alexandria, Mesir. Wabah ini kemudian menyebar ke Palestina, Mesopotamia, Suriah, dll. Pada Tahun 1349, Kota Mekah ikut terjangkit wabah.




Jumlah Korban dan Wabah yang Tak Kunjung Usai

Pada Tahun 1953, serangan wabah ini berhenti. Eropa kehilangan 60% penduduknya. Separuh penduduk Paris menjadi korban. Hamburg, Bremen, dan London mencatatkan 60% penduduknya menjadi korban. Di Timur Tengah, sepertiga penduduk meninggal akibat wabah ini. Sementara Mesir mencatat angka 40% korban jiwa.

Meskipun secara teknis wabah kematian ini berakhir pada tahun 1353, namun wabah ini sebenarnya tidak benar-benar berakhir kala itu. Tercatat, wabah ini kembali tujuh tahun berselang dan terus menyerang selama tiga abad. Baru pada tahun 1671 serangan wabah ini akhirnya berkurang secara signifikan meskipun tidak pernah benar-benar hilang. Periode 1360 s.d. 1671 ini disebut masa pandemi wabah kedua. Wabah ini akhirnya benar-benar hilang pada abad ke-18 di Eropa dan abad ke-19 di Afrika.




Wabah yang Mengubah Tatanan Sosial

Wabah kematian hitam memberikan pengaruh sosial yang sangat signifikan. Salah satu alasan Italia akhirnya memasuki era renaissance konon adalah adanya wabah ini. Masyarakat Italia, yang babak belur dihajar oleh wabah ini, kehilangan kepercayaan mereka akan pengobatan spiritual oleh pihak gereja. Akhirnya, mereka memulai pengembaraan ilmiah dalam dunia pengobatan.

Banyaknya korban meninggal mengakibatkan permintaan akan tanah dan bahan makanan menurun. Harga pangan dan sewa tanah pun jatuh. Hal ini mengakibatkan melemahnya kekuatan kaum feodal.

Itulah sekilas tentang wabah kematian hitam. Selama ini kita mengenalnya sebagai wabah di Eropa karena memang di periode itu mereka mencatat fenomena ini dengan sangat baik. Tentunya, dengan keterbatasan informasi, mereka hanya mencatat dunia yang mereka ketahui. Itu sebabnya, kita lebih mengenal wabah ini di Eropa. Meski ironis, mengingat wabah ini sebenarnya dari Asia. Dan bahkan, Asia juga turut menjadi korbannya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 38

2 tanggapan pada “Wabah Kematian Hitam: Membentang dari Asia ke Eropa — Sejarah Pandemi Dunia (2)

  1. Bewww…saya baca ini semakin horor. jadi merasa semakin khawatir pd masa depan negara kita.. indonesiaku pulih lah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas