Sudah Dua Kali Meninggal, “Tsar” Itu Ternyata “Masih Hidup” — Sejarah Rusia (21)




Kamp Pasukan Dmitri di Tushino (Lukisan: Sergey Ivanov, Wikipedia)

Setelah kematian Dmitry “Gadungan” I, kembali terjadi kekosongan takhta. Vasili IV Shuysky ditunjuk sebagai Tsar dalam sebuah pemilihan oleh dewan para boyar yang diisi oleh para pendukung Vasily.

Pemerintahan Vasily sesungguhnya tidak memperoleh dukungan dari mayoritas boyar. Itu sebabnya Vasily tidak terlalu memiliki kekuatan untuk mengatur di Rusia. Apalagi, di tanah Rusia saat itu juga masih terdapat kekuatan besar para bangsawan persemakmuran Polandia-Lithuania dan para Kossak. Di sisi lain, posisi Vasily relatif aman karena para boyar tidak memiliki alternatif pemimpin. Namun, hal ini tidak berlangsung lama.

Satu tahun kemudian, pada tahun 1607, muncul lagi seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah Dmitry, anak Ivan the Terrible. Lebih tepatnya, Dmitry yang kali ini (sebut saja Dmitry “Gadungan” II) mengaku bahwa dirinya selamat dari upaya pembunuhan di bulan Mei 1606 lalu. Jerzy Mniszech memperkenalkan Dmitry “Gadungan” II ini kepada sang putri, Marina. Sepertinya, Jerzy Mniszech masih belum menyerah dengan ambisinya menjadikan sang putri seorang Tsarina. Ketika melihat “Dmitry”, Marina langsung menyadari bahwa inilah suaminya yang “menghilang” satu tahun yang lalu.




Segera, para bangsawan Persemakmuran Polandia-Lithuania kembali mendukung Dmitry. Kemungkinan besar, dukungan ini mereka berikan karena mereka ingin memperoleh konsesi wilayah kekuasaan. Dmitry “Gadungan” II juga memperoleh dukungan dari kalangan rakyat jelata Rusia karena menjanjikan penyitaan besar-besaran tanah para boyar.

Berbeda dengan di masa Dmitry “Gadungan” I yang hanya berhasil mengumpulkan 4000 pasukan, Dmitry “Gadungan” II kali ini memiliki kekuatan 25.000 pasukan. Dan bahkan, jumlah ini nantinya melampaui 100.000 pasukan. Setelah mengumpulkan kekuatan, Dmitry melakukan invasi ke Rusia.




Satu per satu, wilayah-wilayah Rusia berhasil direbut Dmitry. Merasa kewalahan, Tsar Vasili IV Shuysky membuat perjanjian militer dengan Raja Swedia Charles IX pada 28 Februari 1609. Swedia saat itu merupakan musuh bebuyutan Persemakmuran Polandia-Lithuania. Rusia akan memperoleh bantuan militer dari Swedia dengan syarat Benteng Korela dan Kexholm menjadi milik Swedia. Sebagai respon atas perjanjian ini, Raja Polandia Sigismund III Vasa menyatakan perang terhadap Rusia.

Malang bagi Dmitry, ketika pasukan Sigismund memasuki Smolensk, para pengikutnya meninggalkannya untuk bergabung dengan Sigismund. Tanpa kekuatan militer yang memadai untuk melawan Tsar Vasili, Dmitry memutuskan untuk kabur kembali ke tempat sang istri, Marina Mniszech. Pada tanggal 11 Desember 1610, Dmitry meninggal dibunuh oleh Peter Urusov, seorang pangeran Tatar. Dmitry “Gadungan” II meninggal dalam kondisi mabuk setelah minum-minum bersama para boyar. Keturunan laki-laki terakhir Tsar Ivan the Terrible ini meninggal untuk ketiga kalinya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 38

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas