Pun Seandainya Ada Mobil Berbahan Bakar Air, Akan Muncul Masalah Baru

Foto: Pexels/Sid Ali

Pada timeline yang beredar di sosmed, entah berapa kali beredar kabar tentang konspirasi pembunuhan seorang penemu mobil yang berbahan bakar air. Stanley Allen Meyer, nama sang penemu, konon sengaja dibunuh oleh pihak-pihak yang berkepentingan di industri minyak bumi.

Air sangat melimpah di muka bumi. Bahkan, dua per tiga dari luas permukaan bumi terdiri atas air. Jika teknologi Meyer bisa dipasarkan, tidak ada lagi ruang bagi minyak bumi untuk dijual.

Namun memang ada kelemahan dalam kabar ini. Sulit sekali menelusuri rekam jejak Stanley Allen Meyer. Siapakah Meyer ini? Dimana universitas tempat ia belajar? Dimana ia bekerja? Apa saja produk yang sudah ia hasilkan sebelumnya?

Penelusuran rekam jejak ini penting. Tidak ada sesuatu yang muncul tiba-tiba dari langit. Sebuah penemuan besar umumnya dihasilkan oleh seseorang yang telah punya beberapa penemuan-penemuan kecil.

Albert Einstein misalnya. Kita tahu bahwa ia memperoleh Diploma untuk mengajar matematika dan fisika dari Federal Polytechnic School di Zurich. Kita tahu bahwa ia sempat bekerja di kantor paten. Kita juga tahu bahwa di tahun 1900, Einstein mempublikasikan paper yang berjudul Folgerungen aus den Capillaritätserscheinungen (Conclusions from the Capillarity Phenomena). Einstein bukan orang tidak jelas yang mendadak mengeluarkan teori relativitas yang menggetarkan dunia.

Jadi, dengan ketiadaan referensi yang jelas mengenai sosok Stanley Allen Meyer ini, sepertinya cukup sulit untuk mempercayai bahwa klaim teknologi ini memang benar ada.

Namun okelah. Asumsikan bahwa teknologi ini benar ada. Anggap bahwa kini kita punya teknologi untuk mengubah air menjadi bahan bakar. Menurut Wikipedia, teknologi ini dilakukan dengan cara memisahkan unsur hidrogen dalam air dari unsur oksigen. Ingat, air adalah H2O. Gas hidrogen ini kemudian menjadi bahan bakar. Pertanyaannya, apakah kita bisa menggunakan sembarang air? Apakah air laut bisa digunakan atau harus air tawar? Apakah asal air tawar atau harus air murni hasil distilasi?

Jika harus air tawar, maka bahan bakar air sekalipun tidak akan menyelesaikan masalah kita. Memang benar air tampak melimpah di Bumi. Namun, 97% air tersebut adalah air yang bersifat saline, atau mengandung garam. Hanya 3% saja yang bersifat tawar. Itu pun, hanya 0,014% saja yang bersifat tawar dan mudah diakses. Mudah diakses ini maksudnya adalah air yang berada di mata air, sungai, danau, dan air tanah.

Boom! Ternyata air tidak semelimpah yang kita kira. Saat ini saja, 2,3 miliar manusia tinggal di wilayah yang kekurangan air. Diprediksi, angka ini akan meningkat menjadi 2,7 miliar penduduk pada tahun 2030.

Apalagi, perlu diingat bahwa kita jangan membayangkan bahwa satu liter air ini akan setara satu liter bensin. Satu liter air ini mungkin hanya menghasilkan sekian cc gas hidrogen saja. Satu metrik gas hidrogen mungkin membutuhkan puluhan, bahkan ratusan, metrik air tawar. Ini yang perlu menjadi perhatian.

Saya teringat krisis kenaikan harga pangan dunia pada pertengahan dekade 2000-an. Kala itu, banyak bahan pangan yang dikonversi menjadi bahan bakar dan hal ini kemudian menjadi bencana.

Hal yang serupa berpotensi terjadi pada air. Kita mungkin akan kesulitan memperoleh air bersih karena PDAM hanya memasok air untuk kebutuhan bahan bakar. Air sumur kita pun berpotensi ikut mengering karena ada sejumlah pihak yang menyedotnya secara gila-gilaan untuk dijual kembali sebagai bahan bakar. Perusahaan air minum kemasan semacam Aqua bisa jadi tidak lagi melayani penjualan air kemasan galon untuk konsumsi. Lalu bagaimana kita memperoleh air untuk minum, memasak, dan mandi?

Ini belum dampak lainnya. Bayangkan jika pemenuhan airnya berasal dari penyedotan air tanah. Saat ini saja, Jakarta sudah mengalami krisis penurunan air tanah. Sejumlah perkampungan di Jakarta Utara sudah tenggelam. Seandainya terjadi penyedotan besar-besaran air tanah dalam rangka pemenuhan bahan bakar, entah mau jadi apa. Apalagi kita negara kepulauan.

Di sini sebenarnya saya hanya ingin mengingatkan. Pertama, teknologi bahan bakar air ini tidak jelas rekam jejaknya. Kedua, pun seandainya ada, belum tentu menjadi silver bullet untuk menyelesaikan masalah energi kita. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru. Namun, bukan berarti sama sekali tidak ada manfaatnya. Setidaknya, bisa menambah diversifikasi dalam portofolio energi kita. Tapi ini juga sebenarnya hanya omong kosong. Karena toh teknologinya belum terbukti ada di pasar.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas