Potensi Resesi Uang 75 Ribu




Uang Denominasi 75 Ribu Rupiah (Foto: BI.go.id)

Dear pembaca setia EconomagzID. Sebagaimana kita tahu, dalam rangka merayakan HUT kemerdekaan RI, Bank Indonesia (BI) menerbitkan denominasi mata uang baru untuk merayakannya. Mata uang tersebut berdenominasi 75 ribu rupiah dan bergambarkan pasangan proklamator kebanggaan kita semua.

Sekilas tidak ada yang salah dengan rilis mata uang ini. Tidak ada pula yang salah dengan jumlah pencetakannya yang dibatasi hanya 75 juta lembar saja. Yang salah hanya satu. Waktunya.

Kita sedang mengalami double economic crisis. Kita menghadapi resesi akibat deglobalisasi imbas perang dagang (ini krisis yang banyak masyarakat awam tidak menyadari), dan disempurnakan dengan krisis akibat pandemi corona. Lengkap! Ekonomi menyusut, PHK dimana-mana, pengangguran meningkat, kelas menengah menyusut.




Kita semua tahu bahwa menghadapi resesi butuh percepatan perputaran uang. Uang yang berputar cepat menciptakan demand yang kemudian menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja. Itu sebabnya pemerintah mendorong new normal, meski sangat prematur. Namun, penerbitan denominasi secara terbatas ini justru berpotensi membalikkan kebijakan pemerintah sendiri. Jika kemudian uang 75 ribu ini jadi uang koleksi untuk dijual mahal di masa depan, maka uang ini tidak berputar. Perputaran uang melambat. Ekonomi berisiko macet.

Apalagi, 75 ribu rupiah bukanlah denominasi yang besar. Anda tidak perlu kaya untuk bisa menyimpan selembar uang 75 ribu rupiah. Masyarakat kelas menengah ke bawah bisa memiliki uang ini untuk disimpan. Ini bahaya.

Bayangkan, uang masyarakat sebanyak @75 ribu x 75 juta lembar = 5,6 T mengendap sebagai koleksi. Padahal, banyak pelaku usaha yang kesulitan memperoleh pembeli karena para konsumen memilih untuk menahan belanja mereka. Baik karena ketakutan kena corona, ketakutan PHK sehingga mereka memilih menabung untuk berjaga-jaga, maupun yang sudah kena PHK duluan sehingga daya belinya ambyar.




Kalau denominasi yang dikeluarkan sangat besar, yaitu 750 ribu rupiah misalnya, maka tidak ada masalah. Hanya mereka yang secara finansial mampu saja yang bisa menyimpan uangnya. Purchasing power orang kaya sangat besar. Pembelian uang koleksi tidak akan mempengaruhi propensity to consume mereka. Atau, boleh juga tetap menggunakan denominasi 75 ribu rupiah. Namun, jumlah uang yang dikeluarkan sangat terbatas. Hanya seribu lembar saja misalnya. Akan sangat aman. Hanya 75 juta rupiah saja uang mengendap. Sangat kecil.

Apa yang terjadi sudah terjadi. Keputusan sudah ditetapkan. Uang ini akan rilis. Saya berharap bahwa saya salah. Saya harap uang 75 ribu rupiah ini benar-benar digunakan untuk belanja dan berputar di masyarakat. Semoga kita bisa menemukannya tersedia di laci kasir indomaret dan alfamart di dekat rumah kita sebagai uang kembalian. Semoga.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 32

2 tanggapan pada “Potensi Resesi Uang 75 Ribu

  1. Akhirnya akan menjadi kebijakan tight money policy, karena semua uang yang dipergunakan untuk membeli uang koleksi tersebut akan kembali ke Bank Indonesia dan tidak kembali ke pasar. Berbeda dengan obligasi pemerintah, di saat masyarakat membeli ada harapan uang pembelian tersebut kembali ke pasar dengan Bank Indonesia maupun pemerintah melakukan repurchasing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas