Pak Dadang vs GM Irene dan Kerecehan Kita

Pak Dadang vs GM Irene Sukandar (Foto: Instagram/mastercorbuzier)

Siapa sangka di awal dekade 2020-an ini, Indonesia mengalami euforia akan sebuah pertandingan catur. Sesuatu yang saya kira tidak akan terjadi lagi di tengah gempuran budaya hiburan dan permainan modern. Terakhir kali catur disambut gegap gempita seperti ini seingat saya terjadi di era 90-an. Kalau tidak salah mungkin tahun 1997. Kala itu, GM Utut Adianto berduel melawan GM Anatoly Karpov.

Sebagai seorang anak SD yang kala itu menggemari permainan catur, saya juga turut menonton. Meski cuma sebentar. Maklum, saya kira akan seperti pertandingan catur kelas kampung dimana tempo pertandingan begitu cepat. Kenyataannya, pertandingan terasa sangat lama dan membosankan.

Akhirnya saya sadar, ternyata para Grand Master ini bermain dengan penuh kehati-hatian tingkat tinggi. Begitu tingginya sampai-sampai untuk menggerakkan satu bidak saja memakan waktu lama. Meski begitu, pertandingan ini tetap membekas di hati saya. Ketika saya memiliki mesin permainan PlayStation, game catur berjudul Virtual Kasparov ada dalam koleksi saya.

Di era 90-an itu, stasiun televisi nasional masih sangat sedikit. Di Kota Semarang kala itu, seingat saya ada TVRI, TPI (kini MNC TV), RCTI, SCTV, dan Indosiar. Kalau sampai ada suatu event olah raga ditayangkan di TV swasta nasional, bisa dipastikan bahwa pertandingan ini begitu dinanti para khalayak pemirsa layar kaca.

Waktu berlalu dan catur sudah dilupakan. Tidak ada lagi pengkultusan kepada para grand master nasional. Sebuah kemewahan yang dulu sempat dinikmati Utut Adianto dan pecatur cilik Susanto Megaranto.

Sampai kemudian euforia itu sekonyong-konyong timbul kembali. Mendadak muncul sebuah pertandingan catur yang sangat dinanti. Tapi kok kali ini yang jadi sorotan adalah duel antara Pak Dadang VS GM Irene Sukandar. Bukannya merendahkan Pak Dadang, but really? Seriously Indonesia?

Dari tontonan sekelas GM Utut Adianto vs GM Anatoly Karpov, kini pertandingan yang kita nantikan selevel Pak Dadang vs GM Irene. Dulu, kita menonton pertandingan catur untuk membuktikan apakah pecatur kita bisa mengalahkan pecatur top dunia. Kini kita melihat pertandingan catur sekedar untuk membuktikan apakah skill Pak Dadang memang padudung.

Akhirnya kini saya paham mengapa channel-channel youtube yang receh seperti Atta Halilintar sangat ramai penonton. Kita memang lebih suka merayakan kerecehan di masyarakat ketimbang membuktikan sesuatu yang lebih prinsipil. Ya memang beginilah selera penonton Indonesia sekarang.

BTW, selamat ya mas Atta dan mbak Aurel atas rencana pernikahannya. Saya sangat suka sekali dengan pakaian yang digunakan saat lamaran kemarin. Sangat serasi dengan warna ungu muda. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah dan diberikan keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas