New Normal Bukan Sekedar Mengembalikan Masyarakat ke Jalanan, Tapi…..




New Normal (Foto: Craig Adderley, Pexels)

Kita semua akhirnya tahu apa strategi pemerintah menghadapi wabah corona. Ya, kita akan menempuh herd immunity, eh maaf, maksud saya new normal. Herd immunity itu kita dibiarkan melawan sendiri virusnya. Kalau selamat ya syukur, kalau mati ya sudah. Salah sendiri kenapa lemah. Kalau new normal beda. Kita harus keluar rumah, tapi berhati-hati dari virus.

Namun, menerapkan new normal itu tentu harus pakai strategi. Tidak bisa masyarakat dilempar keluar begitu saja dengan asumsi masyarakat siap. Banyak yang tidak social distancing. Di masa PSBB saja, banyak kita jumpai sekeluarga keluar rumah naik motor ke jalan besar, kadang ada yang tanpa masker. Kita juga menemui masyarakat berkerumun di pasar. Kalau new normal yakin bisa social distancing?

Eh, tunggu dulu. Yang tidak disiplin jangan melulu disalahkan ke rakyat. Rakyat memang tidak disiplin. Tapi, pemerintahnya sendiri juga tidak disiplin. Banyak yang bisa lolos mudik. Banyak rumah makan yang masih menyediakan makan ditempat sementara tidak ada aparat yang menutup. Banyak masyarakat berkerumun tidak dibubarkan. PSBB saja terbukti seperti ini, bagaimana new normal? Jangan sampai yang terjadi new normal rasa herd immunity.




Dalam artikel sebelumnya, mantan menkes Siti Fadilah Supari sudah menegaskan, lockdown tidak perlu. Tapi, ada konsekuensinya. Screening, tracing, dan physical distancing tidak boleh ditawar. Kali ini, saya akan hanya berbicara dari segi screening saja. Itu saja dulu. Yaitu seberapa mampu kita mendeteksi seseorang carrier virus ini. Lebih spesifik, saya ingin bicara tentang tes corona.

Mengapa kita butuh tes PCR yang masif? Tanpa lockdown, kita perlu memastikan bahwa sebanyak mungkin mereka yang carrier virus covid-19 dikeluarkan dari masyarakat. Baik dalam bentuk isolasi di rumah sakit, maupun isolasi mandiri. Ketika para carrier ini sudah kita isolasi, mereka yang negatif bisa beraktivitas seperti biasa. Sambil tetap mempertahankan physical distancing (termasuk pakai masker dan cuci tangan tentunya). Itu yang namanya new normal. Normal, tapi tetep enggak normal juga sih.

Pertanyaannya, darimana kita tahu kalau kita sudah cukup merumahkan para carrier ini? Dari kurva penderita yang melandai. Kurva melandai menunjukkan bahwa tingkat penularan sudah sangat rendah. Itu artinya, virus ini kesulitan menemukan mangsa baru dan terisolasi. Nah, kalau kurvanya masih terus meningkat seperti sekarang, itu artinya carrier masih terus berkeliaran. (Halo, apa kabar PSBB?) Kalau PSBB dibuka setelah lebaran, virusnya gantian yang lebaran setelah dua bulan puasa — meski para virus ini puasanya selama ini hanya puasa bedug (setengah hati hari).




Jadi, penerapan new normal butuh kapasitas tes harian yang sangat besar. Dan tesnya harus tes yang akurat, yaitu PCR. Begitu dapat yang positif, segera isolasi para carrier. Lakukan tracing kepada para kontak, dan lakukan testing. Sementara, mereka yang negatif silahkan berkegiatan. Setelah carrier ini sembuh, mereka boleh bekerja lagi. Lakukan berulang-ulang. Begitu terus sampai virusnya kehabisan inang. Tanpa vaksin, kesabaran dan kesungguhan memang satu-satunya senjata yang kita miliki. Tidak boleh menyerah, kecuali jika negara kita memang sudah kehabisan uang untuk membeli alat tes dan kita tak punya solusi lain.

Yang sekarang jadi masalah, apakah kita sudah memiliki kemampuan untuk melakukan tes covid-19 dalam skala besar? Dengan jumlah penduduk 269 juta jiwa, kapasitas tes corona kita sebanyak 12.276 spesimen per hari. Sebagai perbandingan, Singapura dengan jumlah penduduk hanya 5,7 juta jiwa memiliki kapasitas tes 40.000 spesimen per hari.

Gambaran kasarnya, asumsikan hanya sepertiga penduduk saja yang dilakukan tes karena berdasarkan kalkulasi, hanya sepertiga ini yang sangat berisiko terkena covid-19. Singapura hanya butuh waktu 48 hari untuk menyelesaikannya. Bandingkan dengan kawasan Jabodetabek saja. Dengan jumlah penduduk sebesar 32,7 juta jiwa, asumsikan kapasitas nasional dialokasikan ke Jabodetabek saja (yang lain tidak kebagian), maka sepertiga penduduk Jabodetabek baru selesai dilakukan tes selama 908 hari, atau 2,5 tahun!




Itu pun dengan catatan. Kita tidak tahu, dari 12.276 spesimen per hari itu, berapa yang PCR (berakurasi tinggi), dan berapa yang metode lainnya dengan akurasi lebih rendah. Menurut mantan menkes Siti Fadilah Supari, kita butuh yang berakurasi tinggi, yaitu PCR.

Itu sebabnya, saya khawatir, akan sangat sulit new normal kita tidak memakan korban. Kita akui saja, ini Indonesia. PSBB sudah sebulan lebih kurva masih terus mendaki. Kita juga bisa lihat dengan mata PSBB hari ini seperti apa. Yakin masyarakat bisa social distancing? Sudah lihat seperti apa keramaian di warung bakso di Kota Tangerang hari selasa 26 Mei 2019 kemarin? PSBB tidak, tes skala besar tidak, lantas modal kita untuk new normal apa? Apakah wabah covid-19 ini mau kita hadapi dengan modal keimanan dan ketakwaan saja? — Maaf untuk para atheis, kalian tidak punya modal apapun.

Harus diakui, tes massal memang tidak murah. Tapi bisa menghemat biaya perawatan rumah sakit karena lebih banyak orang yang tercegah dari virus. Di sisi lain, dengan new normal, pundi-pundi penerimaan pajak juga berupaya untuk dipulihkan kembali. Jadi, dananya ada, uangnya ada. Tinggal mau kerja atau tidak.

Namun, selalu ada opsi yang paling murah. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Yang terjadi terjadilah. Kalau rumah sakit sudah overcapacity dan obat-obatan sudah habis, ya sudah. Sudah takdir. Salah sendiri hidup di zaman yang salah. Hidup di zaman yang benar pun, kita semua juga pasti mati kok.  Kenapa harus takut mati? Yang penting selama bukan saya yang mati, eh…

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas