Menghargai Hak Intelektualitas Orang Lain Memang Sulit Sekali di Negeri Ini: Tulisan Saya Dicuri

Melakukan Pengamatan Ekonomi dan Sosial di Isle of Skye, Britania Raya (Foto: Koleksi Pribadi)

Sore ini saya menemukan bahwa salah satu tulisan saya dicuri. Tulisan yang baru kemarin saya tulis. Tulisan saya yang berjudul Fenomena Mudik di Tengah Corona: Apakah Mereka Egois?

Lebih mengenaskan, tulisan ini dicuri oleh sebuah situs yang memproklamirkan dirinya sebagai situs jurnalisme. Yang dikelola dengan sangat profesional. CEO-nya adalah mantan Ketua Dewan Penasihat di sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Dengan slogan medianya menggunakan bahasa asing yang kurang lebih memiliki arti “membawakan jurnalisme yang berpikiran adil”. Sungguh ironis jika kemudian situs ini tanpa ada rasa malu sedikit pun berbuat tidak adil kepada para penulis. Bukan tidak mungkin bahwa korban mereka bukan hanya saya.

Tidak, saya tidak akan menyebutkan nama situsnya sekarang. Saya akan tunggu 2×24 jam sampai mereka menjawab email saya. Kalau mereka hapus maka saya anggap urusan selesai. Kalau tidak ada jawaban baru nanti akan saya buka di situs ini. Sisanya saya serahkan pada Allaah. Biar nanti kerugiannya dibayar lunas di akhirat saja. Justru itu menjadi sumber kekayaan saya. Kekayaan abadi. Bukan kekayaan yang sirna ketika ajal sudah menjemput.

Namun, saya tetap harus mengontak situs tersebut. Pun mengontak sang CEO. Menyampaikan keberatan. Dan juga ancaman saya akan akhirat nanti. Ketika yang bersangkutan tidak bisa bersembunyi lagi. Supaya bertaubat. Tapi jika tidak bertaubat dan mengulangi lagi, mau tidak mau harus saya sebut. Sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak kepada kebaikan, mencegah kejahatan.

Ini untuk yang kedua kalinya tulisan saya dicuri. Yang pertama bukan situs ini pencurinya, tapi situs lain. Saya sampai heran. Nyari uang kok gitu amat.

Bukan apa-apa, saya menulis pakai riset. Kadang harus begadang. Atau bangun dini hari untuk menulis. Karena dari pagi sampai sore saya harus melakukan pekerjaan saya yang lain. Dan tiba-tiba, ada orang yang dengan seenaknya mencuri begitu saja semua kerja keras saya.

Memang betul, saya menulis blog karena hobi. Memang betul, saya menulis blog karena saya memiliki kepedulian untuk mencerdaskan masyarakat. Itu sebabnya blog saya tidak melulu membahas topik-topik yang populer. Apalagi membuat tulisan picisan demi sekedar mencari hits. Pun menjual clickbait. Namun, saya juga tidak memungkiri ada motif finansial di sana. Ada keperluan yang perlu saya penuhi.

Idealisme harus tinggi. Namun kaki harus tetap menapak bumi. Sedikit demi sedikit tapak itu kita tinggikan. Itulah sunatullaah. Sudah begitu rancangan Allaah untuk hidup kita di dunia. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Baik kebutuhan dasar, maupun kebutuhan intelektual. Baik kebutuhan untuk membiayai sekolah dan les anak, maupun kebutuhan pengembangan intelektual. Buku-buku itu tidak gratis. Majalah-majalah itu tidak gratis. Pengamatan sosial itu juga perlu biaya.

Maka dari itu, hargai kekayaan intelektual orang lain. Jangan mencuri hak orang lain. Apalagi jika situsnya memposisikan diri sebagai situs jurnalisme. Yang ingin membawakan jurnalisme yang berpikiran adil. Tapi malah tidak adil kepada sesama penulis. Sungguh ironi.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 34

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas