Mengapa Rupiah Menguat Awal Juni 2020 — Forensik Keuangan Dunia




Foto: Pixabay/Pexels

Rupiah belakangan sedang dalam laju reli menguat. Jika pada tanggal 27 Mei yang lalu 1 USD harus ditebus dengan harga 14.892,50 IDR, hari ini anda bisa memperoleh dollar yang sama dengan biaya hanya 14.028,50 IDR. Rupiah menguat 6% dalam dua minggu. Pertanyaannya, apakah yang menjadi penyebab penguatan ini?

Untuk menjawabnya, pertama kita harus melihat apakah penguatan rupiah ini terjadi hanya pada rupiah saja atau juga dialami oleh mata uang lainnya. Poundsterling ternyata juga menguat terhadap dollar. Tanggal 27 Mei, 1 USD setara 0,82 GBP, sementara hari ini setara 0,79 GBP. Yuan juga mengalami penguatan. Di periode yang sama, 1 USD yang semula senilai 7,17 CNY turun menjadi 7,08 CNY. Euro juga menguat di tempo yang sama, dari 1 USD seharga 0,91 EUR menjadi 0,89 EUR. Itu artinya, penguatan rupiah terjadi karena ada sesuatu yang membuat investor melepas dollarnya.

Pertanyaannya, mengapa Investor melepas dollar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu melacak dari mana dollar ini lari. Sama seperti seorang detektif, kita perlu melihat ke TKP terlebih dahulu, melakukan aktivitas forensik, baru kemudian menyimpulkan.

Salah satu TKP yang paling awal yang perlu kita periksa adalah pasar modal. Pasar modal bisa menjadi cerminan bagaimana para investor melihat prospek sektor riil di sebuah negara. Ternyata diluar dugaan, pasar modal di Amerika Serikat (AS) malah moncer. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 terus menguat. Berarti, masalah bukan di pasar modal. Lalu, uang dollar yang lari asalnya dari mana?




TKP kedua yang kita datangi adalah obligasi pemerintah. Ini bisa menjadi indikator seberapa besar kepercayaan investor terhadap pemerintah sebuah negara. Di sinilah kita menemukan jawabannya. US 10 Year Treasury meningkat dari 0,679% pada tanggal 27 Mei 2020 menjadi 0,842% per 9 Juni 2020. Kenaikan yield ini menunjukkan bahwa demand para investor menurun, sehingga pemerintah harus meningkatkan yield untuk menarik para investor. Ada sesuatu yang membuat investor tidak percaya terhadap pemerintah AS. Para investor percaya pada sektor swasta AS, tapi mengalami penurunan kepercayaan terhadap pemerintahnya. Investor memutuskan melepas obligasi pemerintah AS dan menginvestasikan dollarnya di tempat lain.

Berikutnya, kita melihat harga emas dunia. Di TKP ketiga ini, kita melihat bahwa harga emas malah turun. Pada tanggal 27 Mei harga emas dunia sebesar 1.709,69 USD/oz, sementara hari ini hanya sebesar 1.694,04 USD/oz. Itu artinya, investor memiliki optimisme terhadap perekonomian global. Banyak yang memilih berinvestasi ketimbang menyimpan uangnya dalam bentuk emas.

Sekarang, kita lihat lagi ke beberapa TKP lainnya, yaitu ke sejumlah pasar modal dunia. IHSG, FTSE 100, Nikkei 225, dan Hang Seng terus naik. Konsisten dengan Dow Jones dan S&P 500. Para investor sepertinya memang memiliki ekspektasi positif terhadap prospek ekonomi dunia.

Jadi, apa yang bisa kita simpulkan? Para investor memiliki keyakinan akan prospek ekonomi global secara keseluruhan. Begitu pun prospek ekonomi Amerika Serikat. Para investor hanya kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah AS. Lalu, mengapa para investor bisa kehilangan kepercayaan pada pemerintah AS?




Kalau kita melihat titik kejadian, pada tanggal 25 Mei 2020 terjadi insiden meninggalnya George Floyd saat ditahan oleh polisi. George Floyd, yang lehernya ditindih oleh polisi, mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bernafas. Tapi polisi cuek saja. Akhirnya George Floyd meninggal. Situasi ini makin runyam karena George Floyd adalah seorang Afrika-Amerika. Selama ini, polisi sudah terkenal diskriminatif dalam melakukan penindakan hukum. Terhadap para Afrika-Amerika, para polisi dikenal lebih agresif dalam melakukan penahanan.

Protes tak terhindarkan. Apesnya, AS saat ini dipimpin oleh presiden yang dikenal cukup diskriminatif. Trump bahkan mendorong polisi untuk menghadapi demonstran dengan cara-cara keras dan tidak simpatik. Bukan hanya kepada para demonstran, para wartawan di lapangan juga kenal pukul, ditembaki, dan juga ditahan. Hal ini justru mengakibatkan gelombang protes semakin besar, bahkan sampai hari ini. Dua minggu sudah kejadian berlalu dan masalah masih berlangsung. Inilah yang diduga menjadi alasan mengapa dollar mengalami penurunan yang dimulai dari tanggal 27 Mei 2020. Dan salah satu yang mendapat durian runtuhnya adalah rupiah.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 25

Satu tanggapan pada “Mengapa Rupiah Menguat Awal Juni 2020 — Forensik Keuangan Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas