Majalah Intisari dan Perlawanan untuk Bertahan Hidup

Saya merasa cukup beruntung karena di dekat rumah saya masih ada kios penjual majalah. Sehingga saya bisa beli majalah sambil lalu tanpa harus repot-repot ke Mall. Hitung-hitung juga memutar ekonomi rakyat kecil. Beberapa waktu lalu, ketika saya ke kios tersebut untuk membeli majalah National Geographic, mendadak mata saya tertuju pada majalah Intisari.

Saya bukan pembaca majalah Intisari karena memang bukan selera saya. Majalah Intisari itu lebih kepada lifestyle dan kesehatan. Tapi edisi kali ini unik karena fokus ke konten sejarah. Ada gambar orang Jawa entah siapa yang tidak saya kenal (setelah membaca isi majalah saya menjadi tahu bahwa orang tersebut adalah Raden Saleh). Sebagai orang Jawa yang tidak terlalu tahu sejarah Jawa, rasanya tergelitik ingin mengetahui apa yang dibahas.

Intisari bulan ini fokus pada sejarah keguruan karena di bulan Mei ini terdapat Hari Pendidikan. Dan topik sejarah yang paling awal dibahas adalah kisah sejumlah guru yang kemudian banting setir menjadi Jenderal – termasuk salah satunya Jenderal A.H. Nasution. Saya baru tahu bahwa ternyata di zaman kolonial menjadi tentara adalah pekerjaan yang dianggap hina bagi sebagian orang dan hanya untuk mereka yang tidak punya pilihan. Termasuk ketika Pak Nas masuk ke KNIL, sang ibunda sedih. Sang ibu akhirnya menyerahkan uang kepada kakak Pak Nas dan berkata, “Ini ongkosmu ke Bandung, ambil kembali si Haris.”

Ketika saya lihat kover belakang majalah, saya menjadi bingung. Kok ternyata Intisari adalah majalah sejarah nusantara? Seingat saya bukan. Sangat jauh dari sejarah, Intisari lebih banyak membahas hal-hal yang kekinian. Sesampainya di rumah segera saya googling. Rasa penasaran ini harus dituntaskan. Meski penuntasannya tidak memberikan imbalan moneter. Mengetahui kebenaran yang receh bisa meningkatkan kesejahteraan jiwa. Dan bagi saya, alasan itu saja sudah sepadan dengan waktu yang dikorbankan.

Dan ternyata saya benar. Deskripsi Intisari Online menurut google adalah “menyajikan informasi terkini seputar kesehatan, teknologi, keuangan, karir, dan kisah inspiratif.” Namun namanya manusia, saya tidak puas dengan kemenangan kecil itu. Rasanya ada yang kurang. Saya teringat, Intisari punya situsnya sendiri. Saya pun memutuskan untuk membuka Intisari Online, dan ternyata insting saya benar. Situs tersebut ternyata juga tidak menyajikan bahasan kesehatan, karir, dan kisah inspiratif. Intisari Online lebih banyak membahas politik internasional dan sejumlah isu nasional.

Hm… Boleh jadi sekarang terjadi perubahan pembaca. Dulu majalah dengan tema lifestyle dan kesehatan mungkin laku. Tapi sekarang cukup sulit menjualnya. Membuat konten lifestyle dan kesehatan barangkali tidak terlalu rumit. Banyak yang bisa memberikan sajian yang serupa namun gratis di internet.

Bisa jadi hal ini yang membuat majalah ini mencoba alternatif baru, sejarah. Tidak banyak situs yang menyajikan sejarah nasional secara mendalam. Meski sejujurnya agak rumit juga. Kualitas kepenulisan sejarah di Tirto sudah sangat bagus serta sangat mengenyangkan. Dan Tirto tidak meminta bayaran sepeser pun. Tentu agak sulit bagi Intisari cetak untuk bersaing. Tapi memang harus diakui bahwa kompetitornya lebih sedikit, dan karakter penikmatnya mungkin lebih bersedia untuk mengeluarkan uang untuk membeli produk cetak seperti buku dan majalah.

Lalu, mengapa saya membeli majalah ini meski saya tahu saya bisa mendapatkan yang serupa secara gratis di internet? Karena saya punya anak di rumah. Saya ingin mencontohkan membaca. Selain itu agar anak saya juga punya bahan bacaan. Siapa tahu nanti jadi rajin membaca gara-gara melihat majalah tergeletak di meja atau sofa. Selain itu, tidak mungkin saya melarang anak saya main hape sementara saya malah lihat hape melulu. Meski sebenarnya di hape itu saya melahap bacaan yang bermutu. Anak mana peduli. Malah nanti terkesan si ayah hanya mencari sebab serta mencari alasan.

Ini mungkin mirip seperti kejadian seorang pejabat yang mengadakan acara ulang tahun di gedung milik pemerintah. Meski mengaku sudah sesuai protokol kesehatan, rakyat mana peduli.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas