Letusan Gunung di Peru Sebagai Penanda Dimulainya Kekacauan di Rusia — Sejarah Rusia (16)




Lukisan Masa Kelaparan di Rusia Tahun 1601 (Sumber: Anonymous, Wikipedia)

Kematian Feodor I yang tidak memiliki penerus mengakibatkan kekosongan dalam pemerintahan Rusia. Untuk menghindari kekacauan, Irina Godunova sebagai Tsaritsa yang merupakan janda Tsar mengambil alih pemerintahan untuk sementara. Ketika Feodor I masih hidup, Irina sebenarnya sudah biasa menjalankan pemerintahan. Hal itu disebabkan oleh Feodor yang tidak tertarik dalam urusan politik.

Namun, karena Irina bukanlah keturunan Rurik dan juga bukan seorang laki-laki, maka pemerintahan Irina tidak memperoleh dukungan. Hanya sembilan hari berkuasa, Irina harus turun takhta.

Namun, sang kakak, Boris Godunov, berhasil mengamankan posisi sebagai Tsar. Pada tanggal 21 February 1598, Zemsky Sobor (parlemen Kekaisaran Rusia) memilih Boris sebagai Tsar pertama di luar trah Rurik.




Pada masa-masa awal pemerintahannya, Boris membuat kebijakan-kebijakan yang baik. Boris menyadari bahwa Rusia harus mengejar ketertinggalannya di bidang ilmu pengetahuan dibandingkan kerajaan-kerajaan lain di sisi barat Eropa. Boris pun berupaya melakukan reformasi di bidang pendidikan dan sosial. Untuk pertama kalinya, Rusia mengimpor guru-guru dari luar negeri dalam skala besar. Selain itu, anak-anak muda Rusia dikirim untuk belajar ke luar negeri. Sesuatu yang juga belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, letusan gunung berapi Huaynaputina di Peru pada tahun 1600 mengakhiri peruntungan Boris Godunov. Letusan gunung berapi ini sangat besar, sehingga debu vulkanik yang dihasilkan menutupi atmosfer Bumi. Rusia mengalami musim dingin vulkanik. Bahkan, di musim panas sekalipun, suhu bisa mencapai di bawah titik beku 0℃ pada malam hari.

Minimnya sinar matahari ini mengakibatkan gagal panen besar-besaran di Rusia. Rusia memasuki masa paceklik selama tiga tahun sampai dengan tahun 1603. Diperkirakan dua juta penduduk Rusia meninggal akibat kelaparan. Jumlah ini setara 30% populasi Rusia kala itu.




Boris segera mengeluarkan bantuan uang dan makanan untuk orang-orang miskin. Sayangnya, bantuan ini hanya diberikan untuk mereka yang tinggal di Moskow. Tak ayal, ibu kota kekaisaran pun segera dibanjiri para pengungsi. Terjadi ketidakstabilan sosial ketika masyarakat dalam jumlah besar berkumpul dalam kondisi kelaparan dan putus asa. Di sisi lain, pengungsian besar-besaran ini mengakibatkan desa-desa menjadi sepi. Dengan minimnya petani yang tinggal di desa, pertanian menjadi lumpuh total.

Meski memperoleh berbagai kecaman, Boris Godunov berhasil mempertahankan takhtanya sampai ia meninggal pada tahun 1605. Boris saat itu sudah menyiapkan sang putra untuk menjadi penerus takhta. Fyodor II Borisovich Godunov, sang anak, sejak kecil sudah dilibatkan dalam pemerintahan. Pun ia memperoleh pendidikan terbaik di Rusia kala itu.

Pada tanggal 23 April 1605, Fyodor II naik takhta di usia 16 tahun. Meski Boris sudah menempa sang anak sejak kecil, Fyodor II memiliki dua kelemahan. Kelemahan yang akan mengakibatkan akhir tragis bagi Fyodor. Sesuatu yang akan kita bahas di tulisan berikutnya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 33

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas