Konflik Ayah-Anak yang Akan Memutus Garis Keturunan Asli Dinasti Romanov — Sejarah Rusia (24)

Peter the Great Menginterogasi Alexei Petrovich (Lukisan: Nikolai Ge/Wikipedia)

Banyak masyarakat awam yang tidak mengetahui bahwa Dinasti Romanov sesungguhnya terputus dari jalur keturunan patrilineal. Ketika Ratu Elizabeth of Russia meninggal pada tahun 1762, takhta kemudian diteruskan oleh Klan Holstein-Gottorp. Namun mereka tetap mempertahankan nama Romanov. Ada sebuah konflik antara ayah dan anak yang menjadi awal berakhirnya Klan Romanov yang asli dari singgasana tertinggi di tanah Rusia.

Kisruh ini bermula ketika Peter the Great menikahi Eudoxia Lopukhina pada tahun 1689. Pernikahan ini diatur oleh sang ibu dan juga saran para bangsawan. Peter dikabarkan tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan sang istri sehingga menceraikannya pada tahun 1698, empat tahun setelah kematian ibunda Peter. Sekitar empat tahun pasca menceraikan istri pertamanya, Peter memiliki seorang simpanan bernama Martha Skavronskaya. Mereka baru menikah secara resmi pada tahun 1712.

Peter memiliki delapan anak laki-laki, namun hanya satu yang bertahan hidup. Tujuh anak laki-laki lainnya meninggal dalam usia balita. Dan satu-satunya anak laki-laki yang bertahan itu adalah anaknya dari istri pertama, Eudoxia Lopukhina. Sang anak ini bernama Alexei Petrovich. Diduga, karena melihat perlakuan sang ayah kepada sang ibu, Alexei menjadi antipati terhadap Peter. Apalagi, konon Alexei juga tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari sang ayah.

Namun, bagaimanapun Alexei adalah calon penerus takhta Rusia. Sang ayah, Peter the Great, berulang kali meminta Alexei untuk ikut mengurus kerajaan. Bahkan Peter mengancam akan memutus hak istimewa Alexei jika ia tak kunjung menuruti keinginan sang ayah. Alexei pun mengusulkan dirinya untuk melepaskan haknya atas takhta dan diberikan kepada sang anak yang juga cucu dari Peter the Great. Anak itu bernama Peter Alexeyevich Romanov. Peter the Great setuju dengan satu syarat. Alexei harus menjadi biarawan jika tidak mau menjadi putra mahkota.

Namun yang kemudian terjadi di luar dugaan. Alexei malah kabur dan mencari suaka kepada saudara iparnya, Raja Charles VI of Habsburg Monarchy. Hal ini mengakibatkan kegemparan di kekaisaran Rusia. Peter the Great merasa tindakan Alexei ini telah menghina dirinya.

Peter the Great kemudian mengupayakan kepulangan Alexei. Alexei memberi syarat. Dirinya setuju pulang ke Rusia jika sang ayah berjanji tidak akan menghukumnya dan membiarkannya hidup damai di kediamannya. Tak punya pilihan, Peter setuju. Sepertinya, Peter berpikir bahwa yang terpenting sang anak kembali ke Rusia dulu. Daripada berada di luar jangkauannya.

Tanggal 31 Januari 1718, Alexei tiba di Moskow. Investigasi besar-besaran dilakukan. Terjadi eksekusi besar-besaran pada siapapun yang memiliki koneksi dengan Alexei, baik dari kalangan bangsawan maupun dari kalangan biarawan dan keuskupan. Termasuk juga sang ibu, Eudoxia Lopukhina, menjadi korban persekusi meski tidak sampai menjalani hukuman gantung.

Alexei sendiri menjalani siksaan demi siksaan. Hal ini harus dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang berpotensi memberontak kepada Tsar. Dalam sidang pengadilan, Alexei diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Namun, belum sempat eksekusi dilakukan, Alexei akhirnya meninggal 7 Juli 1718 dalam usia 28 tahun.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

 

Posts created 32

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas