Kalau Saja Kita Serius Sejak Awal Pandemi

Lockdown (Foto: Anna Shvets/Pexels)

Saat ini kita sudah memasuki bulan ke-7 pandemi covid-19. Bukannya terkendali, pandemi ini semakin merajalela. Penambahan kasus per 12 September 2020 lalu mencapai 3.806 kasus. Rumah sakit semakin penuh. Di Provinsi DKI Jakarta, tingkat keterisian ICU sudah mencapai 83% per 6 September 2020.

Yang membuat situasinya semakin unik, di level pemerintahan masih saja diskusinya tentang ekonomi. Padahal tanpa kesehatan, tidak ada ekonomi. Anda bisa lihat sendiri di Ari Lasso TV. Ari Lasso dan Andra Ramadhan tidak pernah lagi ke mall semenjak maret lalu. Padahal keduanya biasa jalan ke PIM. Once Mekel juga sama. Tak pernah ke mall lagi. Ke restoran pun hanya sekali. Tidak pernah nongkrong di kafe lagi.

Ari, Andra, dan Once inilah potret perilaku kalangan menengah ke atas. Mereka ini yang secara finansial menghidupi ekonomi karena daya belinya tinggi. Tapi mereka juga yang paling aware dan hati-hati. Sementara mereka yang tidak hati-hati umumnya justru daya belinya rendah. Jalannya banyak, tapi belanjanya sedikit. Bagaimana ekonomi bisa pulih.

Percaya tak percaya, berdasar hasil swab di kantor saya bulan lalu, yang paling banyak positif covid-19 justru para office boy dan satpam. Covid-19 ini asalnya adalah penyakit orang kaya. Begitu masuk ke kalangan bawah, ya sudah. Sulit.

Kembali ke bahasan awal, kapasitas ICU di DKI Jakarta saat ini hanya tersisa 17%. Anda bisa bayangkan, jika ICU sudah full 100%. Ketika ada pasien darurat, mau ditaruh dimana? Rumah sakit tidak bisa lagi merawat. Harus ada yang dibiarkan berbaring begitu saja di kamar. Kalau sembuh ya sukur, kalau tidak sembuh ya salah sendiri. Siapa suruh lemah. Apa mau seperti itu?

Kalau anda dari kalangan berduit, situasinya lebih baik. Anda bisa membayar di atas harga pemerintah. Pun bayarnya pakai kas keras. Rumah sakit tak perlu repot mengurus administrasi ini-itu dan menunggu lama penggantian biaya dari pemerintah. Bagaimana dengan yang tidak berduit? Sudah tahu miskin kok berani-beraninya sakit. Ada potensi moral hazard dari rumah sakit. Apalagi jika rumah sakitnya mengalami masalah likuiditas.

Coba saja sejak awal kita tegas menutup penerbangan luar negeri. Yang boleh masuk hanya untuk kepentingan bisnis saja di Indonesia. Itupun harus swab semuanya. Jika positif karantina 14 hari. Biayanya diambil dari menaikkan tarif visa masuk. Kita korbankan wisatawan asing, tapi wisatawan domestik masih bisa jalan. Paling tidak masih ada pergerakan ekonomi. Jika harus dapat bantuan pemerintah, biayanya masih terjangkau.

Atau ketika awal maret kemarin kita langsung lockdown Jakarta 1,5 bulan. Agar ekonomi di luar Jakarta masih bisa berjalan. Kita korbankan Jakarta, agar yang lain bisa melanjutkan kehidupan.

Di bulan September ini sudah rumit. Pandemi sudah menyebar kemana-mana. Anggaran yang harus disiapkan menjadi membengkak. Dari segi fasilitas Kesehatan, DKI Jakarta yang di atas rata-rata nasional kelimpungan, bagaimana dengan di luar Jakarta.

Dalam hidup, kadang kita harus belajar menerima bahwa ada situasi dimana kondisinya inheren. Mau diapakan juga hasilnya percuma. Lebih baik mengorbankan sebagian untuk menyelamatkan yang lain. Daripada tenggelam semuanya.

Kalau saya ditanya posisi saya sekarang, mungkin lebih baik tak perlu PSBB. Skalanya sudah terlalu besar. Pemprov DKI, Polri, dan TNI tak punya aparat yang cukup untuk melakukan pengawasan. Anggaran bansos sepertinya tidak bisa diharapkan. Toh PSBB tak dapat dukungan dari pemerintah pusat.

Sekarang memang sudah waktunya hukum rimba. Yang kuat yang selamat. Baik kuat secara fisik maupun kuat secara finansial. Salah sendiri lemah. Toh hidup pasti mati. Apa bedanya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 38

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas