Hati-Hati Dalam Menggunakan Data Output/Produk Domestik Bruto (PDB)




Perbandingan antara Angkatan Kerja dengan PDB Nominal Tahun 2016 (Data: World Bank)

Salah satu indikator ekonomi yang menjadi favorit sejumlah pengamat ekonomi adalah angka Produk Domestik Bruto (PDB). Indikator ini bukan hanya menunjukkan seberapa besar pendapatan nasional secara agregat, melainkan juga menunjukkan seberapa besar skala ekonomi suatu negara dibandingkan negara lainnya. Jika Amerika Serikat dan Cina begitu ditakuti dunia, maka kita bisa melihatnya dari angka PDB mereka. Sebagai ilustrasi, PDB Amerika Serikat sebesar 4 kali lipat Jepang, sementara Cina yang berada di posisi kedua memiliki PDB yang “hanya” 2,5 kali lipat ekonomi Jepang. Sebagai informasi, Jepang adalah negara dengan PDB nomor 3 dunia. Anda tentu sudah terbayang seberapa jauhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat dan Cina dibandingkan negara-negara yang lainnya.

Namun, anda harus hati-hati dalam menggunakan data PDB. Mengapa? Karena setidaknya ada tiga metode penghitungan PDB. BPS menggunakan dua metode, yaitu atas dasar harga berlaku (nominal) dan atas dasar harga konstan (riil). Sementara, untuk kepentingan Internasional, World Bank menambahkan metode ketiga, yaitu atas dasar kesetaraan daya beli (purchasing power parity). Mengetahui metode mana yang akan kita jadikan dasar analisis sangat penting.




Sebagai contoh, jika anda membandingkan tax-to-GDP ratio, pastikan bahwa anda menggunakan PDB atas dasar harga berlaku. Alasannya adalah besaran penerimaan pajak diukur menggunakan nilai rupiah berlaku. Apabila PDB yang anda gunakan adalah PDB atas dasar harga konstan (riil), maka PDB anda terlalu kecil, yang berarti bahwa angka tax-to-GDP ratio yang diperoleh terlalu besar dibandingkan dengan angka yang sebenarnya.

Di sisi lain, untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, PDB atas dasar harga konstan lebih tepat karena sudah meminimalkan inflasi dalam perhitungan. Jika inflasi masih bercampur dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi, maka indikator pertumbuhan ekonomi menjadi terlalu besar daripada yang seharusnya.




Namun, perlu diingat bahwa jika data pertumbuhan ekonomi akan digunakan sebagai penentu besaran UMR (Upah Minimum Regional), maka indikator yang seharusnya digunakan adalah PDB atas dasar harga berlaku (nominal). Mengapa? Karena jika menggunakan harga konstan sebagai dasarnya, maka para pekerja mengalami kerugian karena itu berarti kenaikan upah mereka tidak benar-benar naik karena tergerus inflasi. Hal ini tentu tidak adil bagi para pekerja.

Jadi, sebelum menggunakan data PDB dalam analisis ekonomi, pastikan bahwa anda telah memperhatikan metodenya terlebih dahulu agar tidak tersesat.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 70

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas