Fenomena Mudik di Tengah Corona: Apakah Mereka Egois?




Salah satu sudut pedesaan di Kabupaten Pasaman (Foto: Koleksi Pribadi)

Di tengah pandemi corona yang sedang berlangsung di Indonesia, ada fenomena sejumlah perantau Jakarta nekat mudik ke kampung halaman. Tak ayal, keberadaan pemudik ini langsung meningkatkan jumlah ODP (Orang Dalam Pengawasan) di daerah tujuan.

Beragam komentar kemudian dilontarkan kepada para pemudik ini. Ada yang menyebut mereka egois, ada pula yang menyebut mereka kurang berilmu. Pada tulisan kali ini, kita akan membahas mengapa para perantau ini seolah santuy saja mudik di tengah wabah.

Mengapa para perantau ini pulang? Apakah mereka tidak tahu bahaya penularan virus? Apakah mereka tidak tahu pentingnya social distancing? Well, harus diakui, memang sebagian masyarakat kita meremehkan corona. Itu fakta. Jadi, memang harus diakui ada sebagian yang kurang berilmu. Sepakat.




Namun, ada orang-orang yang mereka tahu bahwa corona berbahaya. Mereka tahu pentingnya social distancing. Mereka tahu bahwa mereka tidak seharusnya pulang. Tapi mereka terpaksa pulang.

Orang-orang ini adalah mereka yang terdampak secara perekonomian karena adanya social distancing di kota-kota besar. Ketika sejumlah institusi pendidikan study from home, dan sejumlah institusi pendidikan dan swasta work from home, ada kalangan yang kemudian terpukul secara ekonomi. Kantin-kantin di sejumlah perkantoran, toko-toko di mall, ojek dan taksi online, dll. Belum lagi sejumlah bisnis transportasi antar kota antar provinsi, travel, dan masih banyak lagi yang mengalami penurunan omset luar biasa.




Tidak adanya penghasilan dan pekerjaan inilah yang kemungkinan besar membuat mereka mudik. Daripada di kota hanya menganggur, sementara harus membayar kos dan memelihara dua dapur, mengapa tidak pulang saja. Sama-sama kelaparan setidaknya mereka di kampung. Berkumpul dengan keluarga. Kalau di kampung ada lahan, meski kecil tapi ada yang dimakan. Dipandang sinis oleh tetangga di kampung pun mungkin terpaksa mereka acuhkan. Daripada mati konyol di Jakarta.

Bukan, tulisan ini bukan pembelaan untuk para pemudik. Kita semua sepakat bahwa yang mereka lakukan sangat membahayakan kita semua. Kota besar dengan fasilitas kesehatan yang cukup baik saja kelabakan. Bagaimana jadinya jika corona masuk desa. Namun, tulisan ini hanya ingin memberikan persepsi, agar kita bisa melihat masalah secara lebih menyeluruh. Agar kita bisa merancang solusi yang lebih baik menghadapi corona. Atau setidaknya sekedar empati.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 33

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas