Ekonomi Diprediksi Resesi, Tapi Pasar Saham Sudah Kembali Naik: Kok Bisa?

IHSG per 12 Juni 2020 (Sumber: Google)

Kalau kita ikuti berbagai berita, baik nasional maupun internasional, semua sepakat ekonomi diprediksi resesi. Bukan hanya karena penyebab masalah kali ini tidak berada di bawah kendali otoritas moneter, yaitu virus. Melainkan juga karena pertumbuhan hutang berbagai negara dunia dalam rangka penanganan wabah. Baik menangani secara kesehatan, maupun menangani secara sosial melalui berbagai skema bantuan sosial — bagi yang dapat tentunya.

Namun, ada fenomena yang unik. Sejumlah bursa saham dunia, termasuk IHSG di Indonesia, sudah kembali naik. Hal ini sangat membingungkan. Para investor ini tentunya paham bahwa ekonomi akan resesi. Tapi, kok malah seperti memilih menantang maut prediksi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sampai mencari referensi ke berbagai media internasional. Mulai dari Bloomberg Businessweek, CNBC, bahkan sampai New York Magazine. Tentu harus saya sesuaikan analisisnya dengan kondisi di Indonesia. Akhirnya saya menemukan jawabannya: mimpi para investor dan prospek jangka panjang.

Sederhananya begini. Kita sama-sama tahu bahwa para investor di bursa saham punya satu mimpi basah: membeli saham ketika harga di titik terendah dan menjualnya di titik tertinggi. Ketika kemarin harga saham sempat drop, para investor sudah ancang-ancang. Mereka tahu, krisis adalah momen terbaik mencari cuan. Ketika harga aset sedang jatuh, itulah saatnya memborong. Dan mereka melakukannya. Harga pun terkerek ke atas.

Selain itu, meski kita sama-sama tahu bahwa kita akan memasuki resesi yang cukup panjang, kita juga sadar resesi tidak akan terjadi selamanya. Akan ada saatnya kondisi kembali normal — seharusnya. Dan di momen itu, harga saham akan kembali ke fundamentalnya. Jadi, pun seandainya ternyata mereka terlalu cepat memborong saham, mereka tidak akan rugi-rugi amat. Dan bahkan tetap bisa dibilang untung. Selama mereka menggunakan kacamata jangka panjang.

Di negara maju sendiri, pasar modal juga diperkuat dengan fakta bahwa pemerintah tidak segan-segan memberikan stimulus dengan nominal fantastis. Apalagi untuk industri yang dianggap strategis. Daripada diborong Cina. Saya tidak tahu apakah hal ini berlaku juga di Indonesia, tapi tetap saya sertakan siapa tahu juga sama. Meski sepertinya tidak. Jika kita bandingkan dengan titik kritis tanggal 21 Februari 2020, S&P 500 hari ini sudah di level 91%. Sementara, IHSG baru 83%.

Jadi, meski sepertinya ada korslet pemikiran antara para investor dengan para ekonom, tapi ternyata hal ini memang wajar. Ekonom melihat bahwa perekonomian dalam bahaya, para investor melihat bahaya ini justru momen meraup untung.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas