Ekonom yang Prediksi Krisis 2008: Kita Akan Memasuki Dekade Depresi Ekonomi




Nouriel Roubini (Foto: World Economic Forum/Wikipedia)

Nouriel Roubini adalah nama yang cukup terkenal di kalangan ekonom. Pada September 2006, Roubini dengan berani menyampaikan prediksi akan krisis subprime mortage di depan para ekonom yang hadir di markas IMF (International Monetary Fund). Saat itu, Roubini adalah ekonom yang kurang terkenal. Sementara, ekonomi dunia pada saat itu sedang mocer-moncernya.

Roubini pun menjadi bahan tertawaan. Ia diberikan julukan yang mengejek, Dr. Doom. Namun, semua berubah ketika setahun kemudian krisis itu benar terjadi. Roubini menjadi ekonom yang sangat disegani di dunia. Pendapatnya menjadi acuan para investor dan para pengambil kebijakan. Dan kini, ia membuat prediksi lagi.




Semua orang tahu, bahwa kita akan memasuki depresi ekonomi. Namun, tidak semua sepakat berapa lama depresi ini akan berlangsung. Mayoritas investor di sektor keuangan memprediksi bahwa resesi ini akan berlangsung singkat. Dunia akan membentuk kurva V. Ekonomi akan turun, namun begitu mencapai titik terendahnya akan segera melakukan rebound. Itu sebabnya di sejumlah bursa saham saat ini sudah menunjukkan kurva V.

Namun, Roubini berbeda. Dalam wawancaranya dengan majalah New York Magazine, ia memprediksi bahwa dunia akan membentuk kurva U. Ekonomi tidak akan segera rebound setelah menyentuh titik terendah. Melainkan, ekonomi akan bertahan di sana cukup lama sebelum akhirnya kembali naik. Apa argumentasi Roubini?

Dow Jones Industrial Average per 22 Mei 2020 (Sumber: Google)

Pertama, krisis ini meningkatkan hutang di seluruh dunia, baik hutang pemerintah maupun hutang di sektor swasta. Lockdown membuat penerimaan pajak pemerintah turun drastis. Sementara, di sisi belanja pemerintah terjadi pembengkakan. Pemerintah harus menanggung biaya pengobatan dan bantuan sosial yang tidak sedikit. Akibatnya, hutang besar tak dapat dihindari.

Sementara, di sektor swasta, lockdown membuat produsen berhenti memperoleh income. Padahal, gaji, sewa, dan cicilan harus tetap dibayar. Solusinya, bangkrut atau hutang (lagi).




Hutang yang besar inilah yang akan menyeret ekonomi dari kebangkitan. Anggaran pemerintah di berbagai penjuru dunia akan cukup banyak yang digunakan untuk membayar hutang. Pembangunan seret. Apalagi, di negara-negara maju, demografi penduduk mereka sudah menua. Tidak bisa diharapkan lagi untuk turun ke lapangan kerja dan membayar pajak. Di sektor swasta, banyak usaha yang mungkin harus pailit karena gagal bayar hutang. Atau, jika tidak gagal bayar, kesulitan dalam berinvestasi akibat hutang yang sudah membumbung. Pembukaan lapangan kerja baru akan sangat terhambat.

Lebih apes lagi, karena krisis kali ini kita mengalami fenomena double sandwich. PHK akibat corona mengakibatkan demand shock. Di sisi lain, perang dagang yang masih berlangsung (dan semakin parah akibat kemarahan AS terhadap Cina terkait pandemi ini) mengakibatkan supply shock. Ambyar!

Ibarat kata, tanpa pandemi ini, sebenarnya ekonomi dunia akan memasuki depresi karena perang dagang. Ditambah wabah covid-19, kelar hidup loe!

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas