Bahrain dan UEA Normalisasi Hubungan dengan Israel: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Burj Khalifa (Foto: Alex Azabache/Pexels)

Berita mengejutkan datang di tengah pandemi covid-19 ini. Dua negara Timur Tengah, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA), melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Itu artinya, kedua negara ini akan menjalin hubungan diplomatik secara resmi dengan Israel. Israel dapat izin untuk membuka kantor diplomatiknya di kedua negara, dan sebaliknya. Sebenarnya, apa yang terjadi? Mengapa kedua negara arab ini setuju? Tawaran apa yang mereka terima?

Realita Politik Regional di Timur Tengah

Untuk memahami situasinya, kita harus paham dulu tentang realita politik regional di Timur Tengah. Meski negara-negara arab tidak secara resmi memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, namun di belakang layar sebenarnya hubungan diplomatik itu terjadi. Dan itu adalah hal yang normal dalam dunia politik. Di depan terlihat bermusuhan, namun di belakang terjadi komunikasi. Don’t take it personally, it’s just a good business.

Banyak pakar yang merujuk Arab Spring, atau insiden musim semi di kawasan Arab pada tahun 2011, sebagai salah satu gamechanger politik regional di Timur Tengah. Terjadi gelombang demonstrasi besar-besaran di sana. Pergolakan sosial tak terelakkan. Sejumlah pemerintahan otoriter tumbang. Sebagian lagi bertahan dengan pengerahan kekuatan.

Di sisi lain, Israel yang selama ini dianggap musuh justru sebenarnya tidak ingin menguasai negara-negara arab ini secara militer. Israel hanya menginginkan Palestina. Dan kalau Palestina dikuasai, tidak ada kerugian apapun bagi negara-negara arab ini. Secara pragmatis, masalah negara-negara arab ini ada di dalam diri mereka sendiri, bukannya Israel.

Negara-negara arab ini kemudian menyadari bahwa mereka punya masalah di internal negaranya sendiri. Politik di negara-negara arab ini adalah musuh yang bisa mengakibatkan pemerintahan mereka jatuh.

Dan memang, secara teknis negara-negara arab ini memang memiliki banyak kesamaan kepentingan dengan Israel. Mereka sama-sama menganggap Iran sebagai musuh. Mereka juga menganggap Turki, Qatar, beserta politik islam yang diusung keduanya sebagai ancaman. Tak heran kalau negara-negara arab dan Israel ini di luar tampak saling benci tapi di belakang layar sebenarnya mereka konco mesra. Dan AS yang jadi penghulunya. Jangan bawa-bawa agama dalam diskusi ini. Ini murni politik dan pragmatisme.

Jadi, bagi negara-negara arab ini, kolaborasi dengan Israel jauh lebih menguntungkan bagi mereka daripada bermusuhan. Mereka bukan lagi generasi kakek mereka dulu yang merasa sakit luar biasa ketika zionis menyerobot tanah Palestina. Mereka adalah generasi baru yang sudah move on. Pengkhianatan sekutu pada Perang Dunia I adalah masa lalu. Mereka sudah menerima realita politik.

Realitanya adalah Israel sekarang negara maju. Negara-negara arab akan maju jika berkolaborasi dengan Israel. Israel pun akan maju jika berkolaborasi dengan tetangganya di kawasan. Mereka sama-sama tahu itu. Dan Palestina hanya menjadi hambatan bagi progress di Timur Tengah. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Hayati lelah…

Trump Peace Plan dan Krisis Politik di Israel

Yang terjadi kemudian terjadilah. Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengajukan Trump Peace Plan. Banyak yang mengkritik rencana ini karena dianggap terlalu menguntungkan Israel dan sangat merugikan Palestina.

Rencana ini disusun oleh menantu Donald Trump yang bernama Jared Kushner yang sepertinya sangat pro Israel. Mengapa Mr. Kushner sangat pro Israel? Ehm, tidak bisa saya sebut di sini. Bisa anda browsing sendiri.

Rencana perdamaian ini diumumkan pada tanggal 28 Januari 2020 oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Israel Benyamin Netanyahu tanpa diwakili oleh delegasi dari Palestina. Di momen yang sama, Netanyahu mengumumkan rencananya untuk menganeksasi wilayah Tepi Barat dan Lembah Yordan. Ini jelas mengejutkan. Jika terealisasi, bisa terjadi gejolak luar biasa di kawasan. Apalagi kalau kemudian Rusia dan Cina jadi penumpang gelap.

Mengapa Netanyahu begitu nekat? Saat ini Israel sedang menghadapi krisis politik di negaranya. Dari April 2019 sampai April 2020, mereka sampai menyelenggarakan tiga kali pemilu. Iya, anda tidak salah dengar. Israel mengadakan tiga kali pemilu dalam satu tahun.

Salah satu penyebabnya adalah turunnya elektabilitas Benyamin Netanyahu karena terlibat skandal korupsi. Sementara sang oposisi terkuat, Benny Gantz, yang mengusung politik liberal belum berhasil meyakinkan rakyat. Terjadi deadlock. Tidak ada yang sanggup membentuk koalisi mayoritas sebagai syarat terbentuknya pemerintahan. Pemilu sampai diulang tiga kali.

Itu sebabnya Netanyahu sampai berjanji akan menganeksasi Tepi Barat dan Lembah Yordan. Agar menang pemilu. Meski Netanyahu sendiri tahu bahwa hal itu sepertinya tidak mungkin dilakukan. Setidaknya untuk saat ini.

Netanyahu kini jadi perdana menteri lagi. Tapi situasinya belum aman. Agar bisa jadi perdana menteri, Netanyahu harus berkoalisi dengan Gantz. Keduanya membuat kesepakatan. Tahun ini Netanyahu jadi perdana menteri, tapi tahun depan Netanyahu harus lengser. Januari 2021 persidangan kasus korupsi Netanyahu dimulai. Netanyahu setuju. Yang penting jadi perdana menteri dulu.

Di sisi lain, Gantz sebenarnya berat hati menerima koalisi ini. Elektabilitasnya bisa merosot. Namun ia adalah seorang negarawan. Jika harus pemilu keempat, bisa-bisa Israel roboh. Israel parah dihajar covid-19. Pengangguran meningkat. Negara harus berjalan. Dengan atau tanpa dirinya. Ia mengalah.

Maka Netanyahu harus meningkatkan elektabilitasnya sebelum 2021. Agar ia bisa mengadakan pemilu keempat dan menendang Gantz. Setelah itu Netanyahu bisa konsolidasi parlemen. Bisa buat aturan imunitas hukum untuk perdana menteri. Sehingga sidang kasus korupsinya di bulan Januari 2021 besok bisa dibatalkan.

Netanyahu politisi tulen. Gantz terlalu polos.

Tapi untuk meningkatkan elektabilitas, janji kampanye harus ditunaikan. Aneksasi Tepi Barat dan Lembah Yordan harus dilakukan. Tapi Netanyahu tahu bahwa pertaruhannya sangat berat. Bisa menimbulkan konflik besar. Dunia sedang sensitif. Salah-salah Israel bisa babak-belur. Netanyahu butuh penyelamatan.

UEA Menjadi “Pahlawan” dan Misi Tercapai

Di sinilah UEA masuk. Mereka menawarkan solusi. Hubungan diplomasi resmi ditawarkan. Tapi aneksasi harus dibatalkan.

Netanyahu setuju. Kini Netanyahu punya excuse. Aneksasi dibatalkan bukan karena ia tak sanggup. Tapi justru menjadi alat barternya untuk memperoleh ikan yang lebih besar. Israel diakui secara diplomatik dengan UEA dan Bahrain. Ini kemenangan besar bagi Netanyahu. Nglurug tanpo bolo — menyerang tanpa mengerahkan pasukan. Kalau ternyata elektabilitas meningkat cukup pesat, Netanyahu bisa mempercepat pemilu.

Di sisi lain, UEA juga menang. Bagi UEA, lebih baik mereka membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Menguntungkan secara ekonomi maupun politik regional. Lebih baik mereka bekerja sama secara terbuka. Dengan adanya momen ini, hubungan diplomatik bisa diresmikan. Dengan alasan demi Palestina. Demi mencegah aneksasi. Dan UEA bisa merasa menjadi pahlawan.

Dari sisi Amerika Serikat, keberhasilan ini diharapkan meningkatkan elektabilitas Donald Trump yang maju sebagai petahana dalam pemilu presiden 3 November 2020. Setelah lebih dari setengah abad, akhirnya AS sukses membuat negara-negara arab menerima kehadiran Israel tanpa harus perang terlebih dahulu.

Semua menang, semua senang. Palestina merana.

Ups, ternyata ada sedikit ganjalan bagi Israel. Agar deal ini disetujui, UEA meminta AS memberikan akses untuk membeli pesawat tempur F-35. Dan informasi yang beredar, AS setuju. Bahkan, diduga pemerintah AS sendiri memang ingin ada pembelian. Agar penjualan di industri militer AS semakin gacor. Agar ekonomi amerika semakin tremendous. Dan Donald Trump semakin kokoh sebagai presiden. Israel konon berang. Keunggulan militer mereka di Timur Tengah terancam.

Menarik untuk disimak bagaimana politik regional di kawasan Timur Tengah akan berkembang di masa depan. Apalagi, di masa pandemi dan resesi ini. Bukan tidak mungkin negara-negara arab lainnya menyusul. Bahrain dan UEA ini bisa menjadi pilot project bagi mereka.

Disclaimer: Ini adalah tafsir pribadi penulis atas berbagai rangkaian fenomena yang terjadi secara berurutan dan juga berdasar pendapat beberapa pakar. Situasi yang sebenarnya bisa berbeda.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 36

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas