Apes Hillary, Untung Biden

Duet Obama-Biden (Foto: Instagram)

Hillary Clinton bisa dibilang apes. Bertahun-tahun digadang jadi the next US President, tapi tak pernah kesampaian. Ketika sang suami masih menjabat sebagai presiden Amerika Serikat (AS) ke-42, masyarakat semua tahu bahwa Mrs. Clinton turut berperan dalam menjalankan roda pemerintahan suaminya. Lengsernya sang suami setelah dua periode bukan berarti akhir karir bagi Hillary. Justru karirnya baru akan dimulai. Semua orang tahu, cepat atau lambat Mrs. Clinton pasti jadi presiden. Pasti.

Setahun sebelum pilpres 2008, entah darimana, muncul sesosok politisi yang mendadak moncer. Muda, enerjik, kharismatik, dari kaum kulit hitam. Barrack Obama. Bahkan seorang Oprah Winfrey sampai mati-matian mengampanyekan Obama. Hillary harus kalah di seleksi Partai Demokrat. Takdir harus menunggu.

Ketika masa pemerintahan Obama selesai, tampaknya tak ada lagi yang dapat menghalangi Hillary untuk menduduki kursi utama oval office. Tidak ada satu pun politisi yang punya curriculum vitae secemerlang dirinya. Namun, mendadak Trump maju sebagai capres.

Di periode pencapresannya yang pertama, Donald Trump belum punya catatan politik. Sebagai seorang yang seluruh karirnya menjadi celebrity businessman, Trump tampak bukan dari kalangan “aristokrat politik” dan diharapkan menjadi penyegaran di dunia politik AS. Lagipula, Trump juga dianggap tidak punya beban masa lalu.

Akhirnya, Hillary harus kalah. Mungkin karena malu kalah oleh calon tak jelas juntrung pangkalnya, Hillary seperti menghilang dari panggung politik. Mrs. Clinton tampaknya sudah mengubur dalam-dalam ambisinya menjadi presiden.

Waktu berputar. Joe Biden bisa dibilang beruntung. Ia baru menghadapi Trump di periode kedua pencapresan sang taipan. Setelah segala hingar-bingar impeachment tahun lalu. Anda boleh berdebat soal kebijakan Mr. Trump. Mau setuju boleh, tak setuju pun tak mengapa. Namun menggunakan institusi pemerintahan demi kepentingan politik pribadi merupakan kesalahan yang tidak dapat diperselisihkan. Rasanya tak patut bagi seorang Presiden AS menahan bantuan militer untuk Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia, demi menekan Presiden Ukraina untuk menginvestigasi dugaan korupsi Hunter Biden, anak sang calon rival terkuat Trump, Joe Biden.

Memberantas korupsi jelas merupakan sebuah kebajikan. Namun tidak bijaksana dilakukan menjelang pilpres terhadap lawan politik. Ini mungkin jadi titik balik Trump. Banyak yang kehilangan simpati.

Trump mungkin lolos impeachment karena senat dikuasai Partai Republik, tapi tidak bisa lolos pengadilan rakyat. Trump harus lengser. Dan Biden yang ketiban untung. Kalau saja Biden maju tahun 2016 lalu, saya sangat yakin Biden tidak mungkin menang.

Begitulah balada kehidupan. Tak pernah bisa ditebak. Apes Hillary, untung Biden

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.

Posts created 38

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas