Analisis Mantan Menkes Tentang Wabah Corona di Indonesia




Pandemi corona saat ini sudah dibahas tuntas oleh semua media. Dari A sampai Z, dari yang berbasis fakta sampai yang berbasis hoax. Meskipun rasanya mungkin sudah cukup memuakkan jika kita terus membahas corona, kemarin saya menemukan sebuah artikel yang sangat menarik. Sebuah wawancara Alinea.id kepada seorang mantan menteri kesehatan. Beliau menakhodai kementerian kesehatan di masa pandemi flu burung dan flu babi. Mantan menteri tersebut bernama Siti Fadilah Supari.

Nah, bagaimana analisis beliau terhadap wabah corona di Indonesia? Dalam wawancara tersebut, Siti Fadilah Supari menekankan hal terpenting dalam menghadapi wabah penyakit menular, yaitu screening, tracing, dan physical distancing. Screening adalah mendeteksi apakah seseorang positif atau tidak membawa virus melalui swab test. Tracing adalah melacak siapa saja yang pernah melakukan kontak dengan orang-orang yang terdeteksi positif corona.




Menurut Siti Fadilah Supari, dengan adanya screening dan testing yang masif, lockdown tidak perlu dilakukan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah cukup untuk mengatasi pandemi ini. Hal ini karena mayoritas mereka yang positif terjangkit virus corona dapat segera ditarik dari masyarakat. Yang positif dan mengalami sakit dirawat di rumah sakit. Sementara, yang positif namun tidak mengalami gejala sakit, melakukan isolasi mandiri di rumah untuk mengurangi tekanan kapasitas rumah sakit. Ekonomi tidak perlu dihentikan total. Cukup dibatasi. Yang penting masyarakat disiplin melakukan physical distancing.

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa kunci sukses Korea Selatan dalam meminimalisir korban pandemi Covid-19 adalah screening yang masif dan serentak ketika penderita masih sedikit. Dengan mereka yang positif diciduk sejak awal, penularan virus tidak akan semasif sekarang. Mungkin, kalau dulu kita mengambil langkah yang sama, sekarang kita sudah bisa menjalani hidup secara normal, sebagaimana yang sudah dialami oleh penduduk Wuhan. Atau setidaknya perekonomian kita tidak perlu sampai seanjlok sekarang.

Well, apapun yang terjadi telah terjadi, semoga pandemi ini segera berakhir. Semoga.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 36

Satu tanggapan pada “Analisis Mantan Menkes Tentang Wabah Corona di Indonesia

  1. jangankan respon ahli medis kita spt dokter, perawat dan penanggung jawab kesehatan di masa wabah covid yg sepertinya lemah dan agresif. Pada kondisi normal pelaku bidang medis tsb diatas, tidak peduli sama sekali. Saya beri contoh: jumlah alat kesehatan yg dipake untuk mendiagnosis penyakit saja, masih banyak yg blm dikalibrasi. Artinya alat kesehatan itu tidak pernah diperiksa keakuratannya. Anehnya jumlahnya sekitar 70 persen dari seluruh alat kesehatan di Indonesia. Belum yang di puskesmas, lebih parah lagi. Data menunjukkan bahwa alat kesehatan yang ter kalibrasi di seluruh Indonesia hanya sekitar 5 persen. Artinya 95 persen dipertanyakan keakuratannya. Artinya dokter, perawat dsb, tidak peduli dengan kesehatan masyarakat. Mereka menggunakan alat kesehatan spt tensi meter, EKG, pesawat rontgen, usg dsb tidak peduli hasilnya akurat atau tidak. Mereka yg penting kerja. Salah diagnosis atau tidak bukan urusan mereka. Itu urusan nasib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas