Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang Kini Sedang Ketakutan Perusahaannya Diborong Cina




Bendera Republik Rakyat Cina (Sumber: Wikipedia)

Pandemi corona kali ini sungguh luar biasa. Selain merupakan masalah kesehatan, juga membawa masalah ekonomi. Yang terbaru, pandemi ini kini merambah masalah geopolitik dan geoekonomi. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang saat ini memiliki kekhawatiran perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri strategis mereka diborong oleh Cina.

Penurunan prospek ekonomi berimbas pada penurunan valuasi perusahaan-perusahaan di bursa saham. Investor mengarahkan investasinya ke portofolio lain yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah. Selain itu, sejumlah perusahaan juga mengalami krisis likuiditas. Perusahaan-perusahaan ini, butuh suntikan dana untuk bertahan dikala demand masyarakat menurun. Di sinilah Cina berpotensi untuk menyalip negara-negara maju di tikungan.




Selama ini, memang Cina sedang getol-getolnya melakukan strategic buying. Alih-alih membeli perusahaan besar dengan tujuan untuk memperoleh capital gain, Cina membeli perusahaan-perusahaan penghasil teknologi tinggi. Tujuannya untuk mengakuisisi teknologi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan-perusahaan penghasil chip, industri pertahanan, artificial intelligence, bioteknologi, dan lain-lain menjadi sasaran.

Strategic buying ini sejalan dengan program Made in China 2025. Dengan program ini, Cina ingin melakukan lompatan industri dan ekonomi. Cina yang selama ini dikenal sebagai pabrik dunia untuk produksi dan perakitan ingin melakukan lompatan menjadi negara inovasi. Mereka memang perlu melakukannya. Jika mereka bertahan dengan strategi sebagai negara manufaktur, pertumbuhan ekonomi mereka melambat. Mereka sudah mentok. Jika ingin terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang melesat tinggi diatas rata-rata dunia, mereka harus beralih ke sektor yang memberikan nilai tambah lebih, yaitu sektor inovasi.

Apalagi, Cina juga ingin meninggalkan ketergantungan ekonomi mereka dari negara lain. Kebijakan embargo Amerika Serikat dibawah pemerintahan Donald Trump tentu membuat mereka semakin harus memenuhi target Made in China 2025. Pabrik mereka bisa berhenti berproduksi kalau tidak bisa memperoleh chip buatan negara lain.




Maka, sekarang inilah menjadi kesempatan besar mereka. Ditengah negara-negara lain yang sedang hilang arah penanganan pandemi covid-19, Cina sudah pulih. Mereka juga punya tabungan yang besar dari surplus perdagangan selama ini. Mereka tidak peduli apakah perusahaan yang mereka beli untung atau tidak. Yang mereka pedulikan adalah membajak teknologinya. Itu yang paling utama.

Sejumlah negara sudah siaga dengan potensi bahaya ini. The Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) saat ini sedang melakukan screening ketat terhadap investasi asing yang berusaha melakukan takeover perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat. Jepang sudah memperketat aturan investasinya. Margrethe Vestager, komisaris kompetisi Uni Eropa, bahkan sampai merekomendasikan negara-negara Uni Eropa untuk membeli saham-saham perusahaan untuk mencegah investor Cina mengambil alih. Di negara-negara maju, mereka sangat anti yang namanya BUMN. Negara tidak boleh berbisnis dengan rakyatnya. Jadi, rekomendasi ini menunjukkan betapa mereka sangat ketakutan akan Cina, sampai-sampai mereka rela melanggar prinsipnya sendiri. 

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita sudah siap melindungi industri strategis kita? Atau malah kita menggelar karpet merah untuk para investor asing?

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas economagz.id.




Posts created 36

2 tanggapan pada “Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang Kini Sedang Ketakutan Perusahaannya Diborong Cina

  1. Ciri khas Cina dari dulu selalu ingin instant. Membeli industri untuk membajak teknologinya sama seperti kelakuan lamanya yakni memproduksi barang tiruan. Membentuk masyarakat yg kreatif dan Innovatif perlu masyarakat yg demokratis. Perlu waktu yang lama. Cina tidak sabar melakukan itu. Untuk bidang olah raga mungkin bisa. Untuk tekhnologi Cina tidak sabar. Saya rasa China kesulitan mempertahankan superioritasnya di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas